Selasa, 30 Juli 2013

Video Detik-detik Penembakan Dramatis Fotografer Mesir

Fotografer freelance Ahmed Samir Assem (26 tahun) bekerja untuk harian Mesir Al-Horia Wa Al-Adala. Ia bertugas merekam seluruh kejadian bentrokan hari Senin lalu sebelum ajal menjemputnya. Dailymail.co.uk

Kairo - Rekaman video wartawan Mesir yang ditembak mati seorang sniper kini menjadi bukti penting kekejaman militer Mesir. Ahmed Samir Assem, fotografer lepas harian Al-Horia Wa Al-Adala tersebut merekam sepanjang 20 menit peristiwa penembakan sebelum sebuah peluru mengakhiri hidupnya.


Dalam video yang diunggah Youtube  dan Facebook beridentitas Samir Assem itu tampak sang penembak jitu menembak ke arah kerumunan orang pada Senin pagi, 8 Juli lalu. Sang sniper mengenakan seragam tentara Mesir. Ia berada di ketinggian dan tampak sejajar dengan posisi Assem yang berada di atas sebuah gedung. Jarak antara sniper dan Assem cukup jauh. Ini terlihat dari gambar sang sniper yang diambil Assem yang tak fokus.

Dalam rekaman itu, sang sniper beberapa kali menembakkan senjata ke arah bawah ke tengah kerumunan pendukung presiden Mesir Muhammad Mursi yang terguling. Para demonstran baru saja menunaikan salat subuh dan berkumpul di luar markas Garda Republik di Kairo yang diduga menjadi tempat penahanan Mursi.

Samir Assem, 26 tahun, tampaknya tak menduga prajurit penembak jitu melihat aktivitasnya merekam penembakan demonstran. Setelah dua kali menembak dan menunduk, seperti tergambar dalam laman Youtube (lihat video Reporter Mesir Rekam Sniper yang Menembak Dirinya), tiba-tiba penembak jitu itu mengarahkan senapannya ke wajah Assem. Assem yang tertembak kepalanya pun tersungkur. Dalam sekejap kamera Assem mati.

Al-Ikhwan Al-Muslimin yang merupakan kelompok pendukung Mursi pun menunjukkan video tersebut dalam konperensi pers mereka kemarin. Mereka hendak menggunakan video itu sebagai bukti kekejaman militer Mesir.
Saudara Assem, Eslam, 29, mengatakan Assem adalah lulusan Fakultas Komunikasi Universitas Kairo. Ia telah mengumpulkan 10 ribu foto dalam arsip pribadinya sejak menjadi fotografer tiga tahun lalu.

Ia bekerja untuk koran Al-Horia Wa Al-Adala, surat kabar resmi Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Al-Ikhwanul Al-Muslimin. Begitu Mursi terguling, Assem pun berada di garis depan peliputan. Pilihannya bergabung ke Al-Ikhwan telah membuatnya bertentangan dengan keluarganya yang menjadi pendukung pemimpin nasionalis Mesir, Gamal Abdal Nasser. 
[TEMPO.CO]

0 komentar:

Poskan Komentar